Waktu terdiam. Aku melihat jarum jam dinding kamarku berhenti.
Hanya aku dan dia yang ada di imaji ku.
Sepi. Jelas saja hampir jam 2 pagi aku duduk di pojokan kamarku.
Entah apa saja yang ingin ku tuliskan.
Tapi belum ada hasil yang bisa ku rangkai.
Entah apa yang ingin ku tuliskan.
Padahal penuh sesak dipikiranku yang tak terucap.
Aku sadar betul betapa sakitnya menyayangi tanpa memiliki.
Karena itu, mundur lah perlahan.
Atau tetap lah disitu namun sebagai sahabat ku.
Karena peran mu cukup sebatas itu.
Tidak lebih.
Aku sadar betul betapa tak mudah kamu berpaling.
Karena hingga saat ini pun, kamu tetap berada di garis terdepan untuk menghiburku.
Tapi untuk apa?
Berharap bahwa kepedulian mu merubah status sahabat menjadi kekasih?
Tidak semudah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar